Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Sunday, 1 February 2015

Dunia Pendidikan Tanah Air Alami Krisis Jati Diri

Heri Santoso, SS, M.Hum, dosen Fakultas Filsafat sekaligus peneliti pada Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, berhasil meraih gelar doktor usai melangsungkan ujian terbuka program doktor dari Fakultas Filsafat UGM.

Dalam kesempatan itu, dia berhasil mempertahankan disertasi yang mengkaji tentang “Nilai-nilai ke-UGM-an” sebagai landasan filosofis pengembangan ilmu.

Di hadapan tim penguji itu dia mengatakan bahwa dunia pendidikan di tanah air saat ini tengah mengalami krisis identitas atau jati diri dan krisis landasan filosofis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.  Sehingga revitalisasi jati diri perguruan tinggi sangat diperlukan sebagai upaya untuk mencari solusi terhadap krisis yang mendera bangsa.

Disampaikannya, fenomena krisis ilmu itu rupanya juga dirasakan sejumlah ilmuan di UGM. Seperti yang diungkapkan guru besar Fisipol UGM Prof Purwo Santoso yang melihat gejalanya masih minimnya kontribusi ilmuan dalam pengembangan ilmu, baik dalam tataran teoritik maupun metodologis.

Melihat fenomena tersebut, dia tergerak meneliti hakikat nilai-nilai ke-UGM-an sebagai upaya revitalisasi jati diri UGM. Hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan bahwa hakikat nilai-nilai ke-UGM-an apabila ditinjau dari filsafat nilai merupakan sifat yang membuat sesuatu menjadi berharga, dijunjung tinggi, dan layak diupayakan perwujudannya sebagai pemandu dan pengarah hidup.

Nilai tersebut berfungsi memberi arah, tujuan, dan makna bagi diri dan keseluruhan
hidup sivitas akademika UGM, sekaligus membantu identitas diri dan menentukan nasib.

“Nilai-nilai ke-UGM-an memiliki ciri khas jika ditinjau dari arti, fungsi, eksistensi, klasifikasi, karakteristik, hirearki, dan kriteria penentuan hirearki nilai,” tuturnya.

Diharapkan, hasil penelitian yang telah dilakukannya dapat ditindaklanjuti dalam kebijakan kelembagaan, khususnya dalam menata ulang nilai-nilai kelembagaan. Dengan begitu akan berpengaruh untuk merefleksi dan merekonstruksi sistem, struktur, dan kultur UGM agar lebih sesuai dengan nilai-nilai ke-UGM-an. (Sumber: Suara Merdeka)

Sunday, 25 January 2015

Banyak Teman Bermanfaat bagi Kesehatan?

Memiliki teman baik atau sahabat, ternyata dapat membuat Anda lebih sehat secara fisik. Tak hanya itu, hidup dikelilingi teman-teman yang menyayangi, juga mampu meningkatkan kesejahteraan mental. Demikian data yang diungkap menurut sebuah studi terbaru, yang dilakukan para peneliti di Concordia University, Montreal.

Seperti yang dilansir dari CVT News, studi itu melibatkan 60 mahasiswa internasional yang hidupnya berpindah-pindah dari waktu ke waktu. Profesor psikologi, Jean-Philippe Gouin, mengamati kesehatan mereka selama lima bulan.

Gouin melihat tingkat integrasi sosial mereka, serta seberapa kesepian mereka dengan cara mengisi kuesioner. Bersama tim riset, ia kemudian coba mendeteksi detak jantung peserta studi, dengan melihat variabilitas detak jantung frekuensi tinggi (HF-HRV), yang dikenal di kalangan medis untuk menjadi indikator parasimpatis kesehatan sistem saraf.

"Studi lain telah menunjukkan bahwa individu dengan variabilitas detak jantung yang lebih rendah mengalami peningkatan risiko mengembangkan kesehatan yang buruk, termasuk risiko lebih besar mengidap penyakit jantung," ujar Gouin.

Variabilitas denyut jantung imigran yang membentuk persahabatan dan memperluas jaringan sosial mereka juga dilaporkan meningkat. Sementara itu, mereka yang mengisolasi dan menutup diri mengalami penurunan denyut jantung.

"Studi ini menunjukkan fakta bahwa isolasi sosial yang berkepanjangan akan memberi efek negatif efek pada kesehatan fisik," tuturnya. Gouin juga mengatakan, studinya berlaku tidak hanya untuk imigran dan mahasiswa, tetapi juga kepada siapa pun yang hidupnya selalu berubah-ubah.

"Pesan ini sangat jelas, Anda harus menjangkau orang lain. Semakin cepat Anda berhasil bersosialisasi di tempat baru, semakin sehat," tambahnya. Studi tersebut diterbitkan dalam Annals of Behavioral Medicine.

Friday, 2 January 2015

Kakek miskin di China, 40 tahun berjuang akhirnya kini S2

Akhir pekan lalu, Zou Weimin mengikuti tes masuk perguruan tinggi di Provinsi Zheijiang, China. Ujian ini bagi mereka yang ingin lanjut studi strata dua di kampus tersebut.

Seperti dilansir shanghaiist.com, Jumat (2/1), Zou jadi peserta ujian tertua. Saingannya yang lain mayoritas seusia cucunya.

Menempuh pendidikan setinggi-tingginya adalah cita-cita kakek 73 tahun itu sejak muda. Sayang, impiannya kandas pada 1960. Ayahnya meninggal, sehingga Zou terpaksa jadi tulang punggung keluarga. Padahal di tahun yang sama dia sudah diterima di jurusan teknik lingkungan oleh Universitas Hangzhou.

Pada 1977, pemerintah mempersilakan mahasiswa drop out mendaftar lagi. Lagi-lagi Zou sial, China membatasi usia pelamar. Karena dia sudah lebih dari 30 tahun, kampus melarangnya ikut program tersebut.

Sabar menunggu dan terus menabung agar bisa kuliah, Zou akhirnya dapat kesempatan pada 2001. Ujian Gaokao (semacam SNMPTN di China) tak lagi membatasi umur peserta.

Usianya sudah 59 tahun. Tetangga menertawakan pegawai pabrik itu, untuk apa kuliah ketika sudah bangkotan. Zou tidak peduli. Pada ujian 2001, dia tidak lolos tes masuk.

Zou mencoba terus sampai akhirnya diterima kembali di jurusan teknik lingkungan Universitas Jiaxing pada 2008. Tahun lalu, kakek dengan empat cucu ini meraih gelar sarjana. Kini, dia berhasrat lanjut studi S2 bidang fisika atau yang masih selaras dengan ilmu teknik.

"Saya optimis bisa diterima dalam tes tahun ini," kata Zou.

Tak punya lengan lalu ditolak kuliah, pria China kini sukses


Hu Xialu, pemuda asal Provinsi Zhejiang, China kini menjadi pengusaha sembako sukses di daerahnya. Jalan hidup sebagai wirausahawan dia ambil, setelah ditolak oleh universitas ketika ingin lanjut studi. Pemuda 24 tahun ini hidup tanpa kedua lengannya lantaran tersetrum saat masih delapan tahun.

Walaupun hidup tanpa kedua lengan, dia terus berusaha membuat kehidupannya lebih baik. Hu mengaku tidak pernah patah semangat, seperti yang dilaporkan Shanghaiist.com, Jumat (2/1).

Setelah menempuh pendidikan formal dari sekolah dasar hingga menengah atas, pada 2009 ia mendaftar ke Beijing Professional Business Institute. Namun usai melihat kondisinya yang tanpa lengan itu, sekolah tinggi tersebut menolaknya.

Tak mau terpuruk terlalu lama, pria ini membuka usaha kelontongnya sendiri di daerah kelahirannya. Ia mulai membuka usahanya dengan memiliki sebuah toko berukuran 30 meter persegi.

Saat ini, toko kelontongnya berkembang semakin pesat. Dia yang mengontrol semua transaksi jual beli di tokonya dibantu dengan ibunya pada bagian pengantaran barang.

"Saya sangat senang dengan usaha yang saya miliki dan saya akan membayar siapapun yang menolong saya dalam menjalankan usaha ini," ujar Hu.

"Walaupun tanpa lengan, saya masih memiliki kaki untuk berdiri. Tak peduli sesulit apapun cobaan dihidupmu, janganlah kamu menyerah," lanjut Hu penuh semangat.

Monday, 22 December 2014

Kisah Asal Mula Pohon Cemara Dijadikan Pohon Natal

Pohon Natal sesungguhnya terbuat dari pohon cemara. Tapi tahukah Anda, kenapa pohon cemara yang dipilih sebagai pohon Natal? Apakah karena pohon ini lantaran kuat kokoh saat musim salju.

Konon, suatu hari, ada seorang rohaniawan Inggris bernama Santo Bonifacius yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Prancis. Saat tengah dalam perjalanan, St Bonifacius melihat sekelompok orang yang hendak mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak.

Merasa iba melihat anak tersebut, St Bonifacius langsung beraksi. Dia merobohkan pohon oak tersebut dengan sekali pukulan tangannya. Dari pohon oak yang runtuh itu, tumbuh sebuah pohon cemara.

Seperti yang dikutip dari liputan6.com, cerita lain mengisahkan saat tokoh reformasi gereja bernama Martin Luther tengah berjalan-jalan pada suatu malam di hutan Jerman. Dia terkesan melihat keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan.

Martin Luther kemudian menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti di hutan, dia memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut. Sejak itu, pohon cemara tenar sebagai hiasan di Jerman.

Mulai Abad 16, sekitar tahun 1510, penduduk Jerman menyebar ke luar negeri hingga Amerika. Sejak itulah, tradisi pemasangan pohon Natal di sejumlah negara dimulai. Mereka kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah.

Pohon cemara ini diyakini melambangkan ‘hidup kekal’ berdasarkan sifat pohon tersebut yang pada umumnya selalu berdiri tegak dan hijau saat musim salju dibanding pohon lainnya yang rontok

Tuesday, 9 December 2014

Kurikulum 2013 Dihentikan, Netizen Sambut Positif

Berita 910 - Sampai hari ini, sambutan positif netizen mewarnai percakapan soal rencana Anies Baswedan menghentikan Kurikulum 2013. Beberapa sambutan positif itu juga datang dari tokok partai dan lembaga Islam seperti Fraksi PPP, PBNU, PKS. Selain itu Walikota Bandung Ridwan Kamil dan pejabat Komisi X, Teguh Juwarno melalui akun Twitternya menyatakan mendukung dengan rencana itu.
Namun, percakapan bersentimen positif ini baru 16 persen dari seluruh percakapan. Mayoritas netizen masih menunggu, mempertanyakan, dan meminta hal ini dikaji dan dipertimbangkan, atau menunggu tanggapan Anies terhadap kritikan mantan Mendikbud, Muhammad Nuh.
Hampir setahun ini dunia pendidikan menjalankan kurikulum terbaru yang di keluarkan oleh pemerintah lama yaitu kurikulum 2013. Rupanya, cukup banyak siswa dan orang tua yang merasa keberatan dengan Kurikulum 2013, begitu pula para guru. Salah satu beban Kurikulum 2013 adalah jam belajar siswa menjadi bertambah yang tentunya itu akan sangat memberatkan para siswa.
Lantaran banyak keluhan yang muncul, pemerintah pun menegaskan akan menghentikan Kurikulum 2013 dan kembali memberlakukan kurikulum lama. Kabar tersebut pun menjadi ramai di perbincangkan public terutama di twitter, melalui berbagai komentar.
Awesometrics mencoba memantau perbincangan tentang topic Kurikulum 2013 di Media Sosial khususnya Twitter. Hasilnya, di temukan sebanyak total 33.386 ciapan yang memperbincangkan Kurikulum 2013 periode 1 Desember – 8 Desember 2014 hingga sore ini dan terus bertambah.

Kemudian dari pantauan Awesometrics ada 3 akun Twitter yang cuitannya paling mendominasi di retweet oleh netizen. 3 akun tersebut yaitu pertama akun milik @Kemdikbud_RI ciapannya di retweet sebanyak 2.966 kali dan 342 kali retweet untuk ciapan lainnya.
Akun kedua yaitu milik @Metro_TV dengan ciapan yang di retweet oleh 697 netizen dan ciapan lainnya di retweet oleh 472 netizen. Dan yang ke tiga yaitu akun @info_SNMPTN yang ciapannya di retweet sebanyak 679 kali.

Perbincangan di Media Sosial tentang Kurikulum 2013 sudah meluas seantero nusantara, dan lebih di dominasi oleh netizen dari kota-kota besar di Indonesia seperti Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Medan dan beberapa kota lainnya.

Monday, 17 November 2014

5 Kebiasaan Negatif di Jejaring Sosial yang Harus Dibatasi

Apa yang kita lakukan di jejaring sosial memang menjadi urusan pribadi yang tidak berhak dicampuri oleh orang lain. Tetapi kita harus ingat kalau jejaring sosial layaknya tempat umum di mana jutaan orang lain bisa melihat dan membaca setiap hal yang kita bagi.

Status atau tautan yang kita share tanpa pikir panjang terkadang bisa membuat orang lain yang kebetulan membaca ikut senang, atau malah jadi bad mood.

Karena itulah ada baiknya kalau kita perlu membatasi perilaku-perilaku negatif seperti ini di jejaring sosial.

1. Mengeluh terus-menerus
Memang menjadi hakmu untuk mengeluh di Twitter atau Facebook. Toh jejaring sosial memang diciptakan untuk sarana setiap orang mengekspresikan diri. Tetapi ada baiknya kamu tidak terlalu sering mengeluh atau ngomel di Facebook dan Twitter.

Pasalnya orang yang kebetulan melihat keluhanmu di timeline bisa ikut sebal. Melihat orang yang sedikit-sedikit mengeluh itu kadang bisa membuat suasana hati jadi tidak enak, lho.

2. Mengumbar emosi
Perilaku yang satu ini jelas perlu dibatasi, sebab saat sedang emosi kita jarang berpikir jernih. Daripada langsung berkicau di Twitter atau ngomel panjang lebar di Facebook, lebih baik kamu tenangkan diri terlebih dahulu. Jangan sampai kamu menyesali status yang sudah kamu ketik dalam kondisi emosi.

Kalau sudah tenang, tidak masalah kalau kamu mau menyampaikan unek-unek lewat jejaring sosial.

3. Menghina orang lain
Anonimitas di internet memang memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat sebebas-bebasnya. Dan ini seringkali menjadikan kita lebih mudah menghina atau melakukan 'bullying' terhadap orang lain.

Meskipun akun kita memiliki identitas jelas yang bisa dilihat siapa saja, pada kenyataannya kamu tetap bisa menyerang orang lain tanpa harus berhadapan langsung dengan mereka. Ini bukan perilaku yang bagus, lho.

4. Umbar kemesraan
Sekali lagi, apa yang kita lakukan di jejaring sosial memang menjadi urusan pribadi yang tidak berhak dicampuri oleh orang lain. Tetapi alangkah baiknya kalau hubungan yang berada di area privasi kamu jaga agar tidak terlalu diumbar di depan publik.

5. Menyebarkan hal negatif
Kalau yang satu ini sebaiknya memang dihindari sama sekali. Siapa di antara kalian yang hobi share berita miring tentang slah satu capres sewaktu masa kampanye pilpres kemarin? Itu juga termasuk menyebarkan hal negatif, lho. Pasalnya kamu menyebarkan berita yang belum tentu benar dan bersifat menghasut.

Itulah 5 perilaku negatif di media sosial yang perlu kamu batasi. Perilaku negatif mana yang paling sering kamu lakukan?